Beranda blog Halaman 173

Resep Putri Ayu, Kue Tradisional yang Lembut dan Kenyal

0

Rubrik Selera Nusantara edisi kali ini menyajikan resep Putri Ayu. Putri Ayu adalah salah satu kue tradisional Indonesia yang terkenal, terutama di daerah Jawa.

Kue ini dikenal dengan bentuknya yang cantik dan warna-warni, serta teksturnya yang lembut dan kenyal. Berikut adalah ulasan mengenai Kue Putri Ayu:

  1. Rasa: Kue Putri Ayu memiliki rasa manis yang lembut, biasanya berasal dari campuran gula, santan, dan tepung beras. Ada juga variasi rasa seperti pandan yang memberikan aroma khas yang menggugah selera.
  2. Tekstur: Teksturnya lembut dan sedikit kenyal, berkat penggunaan santan dan tepung ketan. Kue ini sering kali dipadukan dengan taburan kelapa parut di atasnya, yang menambah sensasi gurih dan kaya rasa.
  3. Penampilan: Kue ini biasanya disajikan dalam cetakan kecil dan memiliki lapisan warna hijau atau putih, yang membuatnya sangat menarik. Penampilannya yang cantik menjadikannya pilihan sempurna untuk hidangan di acara-acara khusus.
  4. Ketersediaan: Putri Ayu mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional, toko kue, atau saat acara-acara seperti arisan dan perayaan. Banyak orang juga membuatnya sendiri di rumah karena resepnya yang relatif sederhana.
  5. Kesesuaian: Kue ini cocok untuk semua kalangan, baik anak-anak maupun dewasa. Selain sebagai camilan, Putri Ayu juga sering disajikan dalam acara-acara keluarga atau perayaan.

Secara keseluruhan, Kue Putri Ayu adalah camilan tradisional yang lezat dan menarik. Jika Anda mencari sesuatu yang manis dan khas Indonesia, kue ini adalah pilihan yang tepat!

Resep Putri Ayu

  • 1 kg Tepung Terigu
  • 1 kg Gula pasir
  • 8 butir telur ukuran besar (kalau kecil 10 butir)
  • 1 sendok SP
  • 1 butir kelapa ukuran sedang
  • 4 gelas kecil santan yang sudah dimasak (kasih garam sedikit saja)
  • Vanili
  • Pewarna pasta pandan (sesuai selera)

Cara Membuat Putri Ayu

  1. Kelapa parut dikukus terlebih dahulu agar tidak mudah basi, kasih garam sedikit saja dan 2 lembar daun pandan (bisa ditambahkan 2 sendok makan tepung maizena).
  2. Gula, telur, SP, vanili dimixer dengan kecepatan tinggi. Jika sudah mengembang dan berjejak, tuang santan dan mixer lagi, sebentar saja sampai merata.
  3. Setelah itu, tuang terigu secara bertahap, aduk sampai merata lalu kasih pewarna pasta pandan secukupnya.
  4. Cetakan olesin minyak agar tidak lengket, lalu taruh kelapa parut, ditekan-tekan ya biar kelapanya menyatu dan tidak buyar saat nanti kuenya sudah jadi.
  5. Tuang adonan ke cetakan, lalu kukus. Sebelumnya, panaskan kukusan terlebih dahulu ya, masak dengan menggunakan api sedang.
  6. Kukus selama 15 menit, kalau kue sudah tidak lengket berarti sudah matang.

Semoga bermanfaat dan selamat mencoba. (*)

Renungan Harian Kristen, Minggu, 6 Oktober 2024: Hidup Baru Melalui Kelahiran Kembali

0

Renungan Harian Kristen hari ini, Minggu, 6 Oktober 2024 berjudul: Hidup Baru Melalui Kelahiran Kembali

Bacaan untuk Renungan Harian Kristen hari ini diambil dari Galatia 1:15-16

Renungan Harian Kristen hari ini mengisahkan tentang Hidup Baru Melalui Kelahiran Kembali

Galatia 1:15-16 1:15 Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya,
1:16 berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaatpun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia;

Pengantar:

Jika Yesus Kristus akan membuat saya baru kembali, hanya jika Dia, menempatkan sifat-Nya dalam diri saya, suatu mukjizat dari penebusan, yang melaluinya saya dapat benar-benar hidup dengan hidup baru. Namun, Allah tidak dapat menempatkan sifat-Nya ke dalam diri saya, kecuali saya sadar bahwa saya membutuhkannya.

Renungan Harian Kristen, Minggu, 6 Oktober 2024

Jika Yesus Kristus akan membuat saya baru kembali, apa masalah yang Dia hadapi? Masalah sebenarnya adalah saya mempunyai suatu (sifat) bawaan yang tidak dapat saya atasi atau ubah. Saya tidak kudus dan tampaknya tidak mungkin menjadi kudus, dan jika semua yang Kristus Yesus dapat lakukan adalah untuk mengatakan bahwa saya harus kudus, ajaran-Nya membawa rasa putus asa. Namun, jika Yesus Kristus adalah Pembangun kembali hidup (regenerator), Seorang yang dapat menaruhkan dalam diri seseorang sifat kekudusan-Nya, maka saya mulai melihat apa yang Dia maksudkan ketika Dia berkata bahwa saya harus menjadi kudus. Penebusan berarti Yesus Kristus dapat menaruhkan ke dalam diri seseorang sifat/natur baka yang dalam diri-Nya. Dan, semua standar yang Ia berikan berdasarkan pada hal ini: ajaran-Nya adalah bagi kehidupan yang Ia letakkan dalam diri seseorang. Transaksi moral yang menjadi bagian saya adalah menerima putusan Allah atas dosa di atas salib Yesus Kristus.

Ajaran Perjanjian Baru tentang lahir kembali adalah ketika seseorang sampai pada pengakuan yang sungguh akan kebutuhannya, dan Allah akan menempatkan Roh Kudus ke dalam roh orang tersebut, dan rohnya akan dimotori oleh Roh Anak Allah, “sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu” (Galatia 4:19). Mukjizat moral dari Penebusan adalah bahwa Allah dapat menaruhkan ke dalam saya suatu sifat/natur baru ke dalam saya yang melaluinya saya dapat benar-benar hidup dengan hidup baru. Ketika saya sampai pada keyakinan akan kebutuhan saya dan tahu keterbatasan saya, Yesus berkata — “Berbahagialah kamu.” Namun, saya harus sampai pada titik itu. Allah tidak dapat menaruhkan ke dalam diri saya, sebagai makhluk moral yang bertanggung jawab, sifat yang ada dalam Yesus Kristus, kecuali saya sadar bahwa saya membutuhkannya.

Sama seperti sifat dosa masuk ke dalam umat manusia melalui satu orang, demikian juga Roh Kudus masuk ke dalam umat manusia melalui satu orang lain (Roma 5:12-19). Dan, Penebusan berarti bahwa saya dapat dibebaskan dari kebakaan dosa (heredity of sin) dan melalui Yesus Kristus dapat menerima hidup yang tidak bercela, yaitu Roh Kudus.

Demikian Renungan hari ini, Minggu, 6 Oktober 2024 diambil dari Galatia 1:15-16 yang mengisahkan tentang Hidup Baru Melalui Kelahiran Kembali dan disadur dari Renungan Oswald Chambers//alkitab.mobi.

Setiap yang Hidup Akan Mengalami Kematian

0

Setiap makhluk yang hidup pasti akan mengalami kematian. Ini tidak hanya berlaku bagi manusia, tetapi juga untuk jin, hewan, dan tumbuhan. Setiap makhluk akan merasakan saat perpisahan tersebut ketika tiba waktunya.

Oleh karena itu, marilah kita saling mengingatkan untuk mempersiapkan bekal menghadapi momen yang tak kita ketahui kapan akan datang. Kita perlu terus meningkatkan kualitas iman dan ketaqwaan kepada Allah SWT dengan melaksanakan kewajiban dan menjauhi yang diharamkan.

Dalam Al-Quran, Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya” (QS. Ali Imran: 102). Kehidupan adalah perjalanan panjang menuju kematian, dan setiap makhluk bernyawa pasti akan merasakan kematian.

Ayat ini mengingatkan kita bahwa kematian akan datang, tanpa pandang bulu, kapanpun dan dimanapun kita berada. Oleh karena itu, kita harus selalu ingat kepada Allah SWT, yang menghidupkan dan mematikan kita semua.

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 28, Allah berfirman: “Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu tadinya mati. Lalu Dia menghidupkan kamu. Kemudian Dia mematikan kamu. Lalu Dia menghidupkan kamu kembali. Kemudian kepada-Nya kamu dikembalikan.”

Dalam tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa ayat ini menegaskan kekuasaan Allah. Sangat aneh jika ada yang ingkar kepada Allah, padahal manusia awalnya tidak ada, lalu diciptakan-Nya di muka bumi.

Ayat ini juga menunjukkan bahwa kita semua pasti akan mati dan dibangkitkan kembali setelahnya. Selama kita hidup, kita harus selalu mengingat kematian dan memikirkan bekal apa yang harus disiapkan untuk menghadapinya. Berikut beberapa hal yang perlu kita siapkan:

Beramal Sebaik Mungkin

Selama hidup di dunia, kita diajarkan untuk beramal soleh sebanyak mungkin tanpa menghitung. Beramal harus dilakukan dengan ikhlas karena Allah SWT dan istiqomah. Dalam Surah Al-Mulk ayat 1-2, Allah berfirman: “Maha suci Allah yang menguasai segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” Dalam hadist, Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik amal adalah yang dilakukan secara rutin, meskipun sedikit.”

Menyiapkan Amal yang Mengalir Pahalanya

Kita perlu menyiapkan amal yang bermanfaat bagi orang lain, yang akan terus mengalir pahalanya meski kita sudah meninggal. Contohnya adalah sedekah jariyah, seperti membangun jalan, saluran air, atau mengajarkan ilmu. Rasulullah SAW bersabda bahwa ketika seseorang meninggal, amalnya terputus kecuali untuk tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakannya (HR. Muslim).

Berdoa untuk Husnul Khotimah

Kita semua pasti menginginkan akhir hidup yang baik, yaitu husnul khotimah. Salah satu cara untuk mencapainya adalah dengan memperbanyak doa dan zikir kepada Allah SWT. Mengingat kalimat “Laa ilaha illallah” sangat dianjurkan, karena jika kita sering mengucapkannya, Insya Allah kita juga akan dapat mengucapkannya di akhir hayat.

Rasulullah SAW memberikan gambaran ciri-ciri husnul khotimah, yaitu seseorang yang istiqomah berbuat baik hingga akhir hayat. Dalam sebuah hadist, beliau bersabda, “Jika Allah menghendaki kebaikan kepada seseorang, maka Dia akan memberinya taufiq untuk beramal soleh sebelum meninggal” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Semoga kita semua menjadi hamba Allah yang selalu ingat kepada-Nya. Dengan mengingat-Nya, iman kita akan bertambah, dan kita akan terus mengerjakan kebajikan. Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai orang-orang yang wafat dalam keadaan husnul khotimah. Amin. (Ana)

Sarcopenia: Kehilangan Massa dan Kekuatan Otot, Kenali Gejalanya

0

Sarcopenia adalah kondisi yang ditandai dengan hilangnya massa dan kekuatan otot akibat penuaan. Untuk mencegahnya, penting untuk rutin menggunakan otot melalui berbagai aktivitas fisik, seperti berjalan, berlari, bersepeda, dan menaiki tangga.

Usahakan untuk selalu berdiri dan bergerak. Hindari duduk atau berbaring terlalu lama sebelum berolahraga. Minum air hangat dan gunakan alas kaki yang nyaman; hindari alas kaki yang berduri atau berjalan tanpa pelindung di permukaan yang keras.

Setelah usia 50-60 tahun, menurunkan berat badan hanya dengan mengurangi makanan tidak akan cukup. Tanpa olahraga, otot akan semakin berkurang, yang berisiko bagi kesehatan. Oleh karena itu, penting untuk membangun kebiasaan berjalan kaki selama 30 menit setiap hari, agar otot tetap kuat dan jantung sehat.

Jika seorang lansia dirawat di rumah sakit, jangan anjurkan mereka untuk lebih banyak beristirahat. Berbaring dalam waktu lama dapat mengakibatkan hilangnya hingga 5% massa otot dalam seminggu, dan sulit untuk memulihkan otot yang hilang. Menghindari pekerjaan rumah bukanlah bentuk pengabdian; dorong mereka untuk tetap aktif.

Banyak orang lanjut usia mengalami kesulitan menelan akibat kurangnya aktivitas fisik, yang bisa berakibat fatal. Sarcopenia lebih berbahaya dibandingkan osteoporosis. Selain risiko jatuh, sarcopenia dapat memengaruhi kualitas hidup dan berkontribusi pada masalah kesehatan lain seperti gula darah tinggi akibat kurangnya massa otot.

Hilangnya massa otot paling cepat terjadi di otot kaki. Ketika seseorang duduk atau berbaring, otot kaki tidak bergerak, sehingga kekuatannya menurun. Untuk meningkatkan kualitas hidup di usia tua, penting untuk tetap bergerak. Rata-rata, orang tua menghabiskan 8 tahun di kursi roda sebelum terbaring di tempat tidur, dan tentu saja tidak ada yang ingin hidup seperti itu.

Pastikan kaki tetap aktif dan kuat, karena penuaan dimulai dari kaki ke atas. Meskipun kita semakin tua, jangan khawatir tentang uban atau keriput; yang penting adalah menjaga kesehatan otot kaki. Berjalan setiap hari sangat dianjurkan.

Jika tidak menggerakkan kaki selama dua minggu, kekuatan otot kaki dapat menurun setara dengan penuaan 20-30 tahun. Melemahnya otot kaki dapat memperpanjang waktu pemulihan, meskipun Anda berolahraga secara rutin. Pastikan seluruh berat badan bertumpu pada kaki.

Setiap kaki mengandung 50% tulang dan 50% otot, berfungsi sebagai pilar yang menopang seluruh tubuh. Oleh karena itu, lakukanlah aktivitas berjalan kaki 10.000 langkah setiap hari untuk menjaga kesehatan otot dan tulang. (Bersambung/ana)

8 Alat Musik Tradisional Khas Sulawesi Tenggara

Sulawesi Tenggara memiliki kekayaan budaya yang tercermin dalam berbagai alat musik tradisional yang digunakan oleh suku-suku di wilayah tersebut, seperti suku Tolaki, Muna, dan Buton. Berikut adalah beberapa alat musik tradisional yang berasal dari Sulawesi Tenggara:

1. Ganda

Ganda adalah alat musik perkusi tradisional yang sangat populer di Sulawesi Tenggara, khususnya di kalangan suku Tolaki. Alat musik ini berupa gendang besar yang dimainkan dengan cara dipukul menggunakan tangan atau stik. Ganda sering dimainkan dalam upacara adat, tarian tradisional, dan acara-acara ritual masyarakat setempat.

2. Bonte-bonte

Bonte-bonte adalah alat musik tiup tradisional yang terbuat dari bambu. Bonte-bonte dimainkan dengan cara ditiup dan menghasilkan suara melengking yang khas. Alat musik ini biasanya digunakan dalam upacara adat dan sebagai pengiring lagu-lagu tradisional. Suku Tolaki di Sulawesi Tenggara sering menggunakan Bonte-bonte dalam pertunjukan budaya.

3. Santu

Santu adalah alat musik petik yang terbuat dari kayu dengan senar dari serat atau kawat. Alat musik ini mirip dengan kecapi dan sering digunakan untuk mengiringi nyanyian atau syair tradisional. Santu biasanya dimainkan dalam suasana yang tenang dan memiliki nilai estetika yang tinggi dalam seni musik masyarakat Tolaki dan sekitarnya.

4. Gong

Gong merupakan alat musik perkusi yang juga digunakan di Sulawesi Tenggara, terutama di kalangan masyarakat Buton. Alat musik ini biasanya terbuat dari logam dan menghasilkan suara yang nyaring dan bergema. Gong sering dimainkan dalam upacara adat, seperti pernikahan atau upacara keagamaan, serta digunakan untuk mengiringi tarian tradisional.

5. Lala

Lala adalah alat musik tiup tradisional dari Sulawesi Tenggara, terutama dimainkan oleh suku Buton. Alat musik ini mirip dengan seruling dan terbuat dari bambu. Lala menghasilkan suara yang merdu dan lembut, sering digunakan untuk mengiringi tarian dan lagu-lagu tradisional.

6. Kompasia

Kompasia adalah alat musik gesek tradisional dari Sulawesi Tenggara, khususnya dimainkan oleh suku Muna. Terbuat dari kayu dengan senar dari serat atau kawat, alat musik ini menghasilkan suara yang lembut dan melankolis. Kompasia sering dimainkan dalam pertunjukan seni dan upacara adat sebagai pengiring lagu atau syair tradisional.

7. Orutu

Orutu adalah alat musik gesek yang mirip dengan rebab, dikenal di kalangan masyarakat suku Buton dan sekitarnya. Terbuat dari kayu dengan senar dari kawat, alat musik ini dimainkan dengan cara digesek dan menghasilkan suara yang melengking. Orutu sering digunakan dalam pertunjukan budaya dan upacara adat di Sulawesi Tenggara.

8. Kazoo Buton

Kazoo Buton adalah alat musik tiup yang unik dan sering digunakan dalam pertunjukan musik tradisional suku Buton. Alat musik ini memiliki bentuk seperti pipa kecil dan dimainkan dengan cara ditiup, menghasilkan suara yang sangat khas dan seru. Kazoo Buton biasa digunakan untuk mengiringi musik dansa atau tarian tradisional.

Kelebihan Alat Musik Tradisional Sulawesi Tenggara:

  • Penting dalam Upacara Adat: Alat musik seperti Ganda dan Gong memiliki peran penting dalam berbagai upacara adat dan ritual keagamaan di Sulawesi Tenggara. Mereka sering digunakan untuk menciptakan suasana sakral atau meriah dalam acara adat.
  • Keunikan Suara: Alat musik tradisional Sulawesi Tenggara, seperti Santu dan Lala, menghasilkan suara yang khas dan memikat, membawa nuansa tradisional dan etnik yang mendalam dalam setiap pertunjukan.
  • Penggunaan Bahan Alami: Sebagian besar alat musik terbuat dari bahan-bahan alami seperti bambu, kayu, dan logam, yang mencerminkan keterkaitan masyarakat Sulawesi Tenggara dengan lingkungan alamnya.

Alat musik tradisional dari Sulawesi Tenggara tidak hanya digunakan untuk hiburan tetapi juga memiliki fungsi penting dalam kehidupan sosial, budaya, dan spiritual masyarakat setempat. Alat-alat ini adalah bagian dari warisan budaya yang terus dilestarikan dan dipertunjukkan dalam berbagai upacara dan acara adat.

9 Alat Musik Tradisional Sulawesi Selatan

Sulawesi Selatan memiliki berbagai alat musik tradisional yang mencerminkan kekayaan budaya suku-suku yang tinggal di wilayah ini, seperti Bugis, Makassar, dan Toraja. Berikut adalah beberapa alat musik tradisional dari Sulawesi Selatan:

1. Kecapi

Kecapi adalah alat musik petik tradisional yang sangat populer di kalangan masyarakat Bugis dan Makassar. Terbuat dari kayu dengan senar dari bahan nilon atau logam, kecapi dimainkan dengan cara dipetik untuk menghasilkan melodi lembut dan syahdu. Kecapi sering dimainkan dalam acara adat dan sebagai pengiring nyanyian atau syair-syair tradisional.

2. Gandrang

Gandrang adalah alat musik perkusi berupa gendang yang berasal dari Sulawesi Selatan, khususnya dari suku Bugis dan Makassar. Gandrang dimainkan dengan cara dipukul menggunakan tangan atau stik kayu. Alat musik ini sering digunakan dalam upacara adat, tari-tarian tradisional seperti tari Pakarena, dan dalam berbagai perayaan.

3. Puik-Puik

Puik-puik adalah alat musik tiup tradisional dari Sulawesi Selatan yang terbuat dari kayu atau bambu. Puik-puik memiliki bentuk menyerupai terompet kecil dan dimainkan dengan cara ditiup. Alat musik ini sering digunakan untuk mengiringi upacara adat dan tari-tarian, seperti tari Ma’badong di Tana Toraja.

4. Suling

Suling adalah alat musik tiup yang juga sangat umum di Sulawesi Selatan. Terbuat dari bambu, suling menghasilkan suara yang lembut dan merdu. Alat musik ini biasanya digunakan untuk mengiringi lagu-lagu tradisional, tari-tarian, atau dalam upacara adat. Suling khas Bugis memiliki teknik tiup yang berbeda dari suling di daerah lain.

5. Tolindo

Tolindo adalah alat musik petik tradisional dari Sulawesi Selatan yang dimainkan dengan cara dipetik. Alat musik ini mirip dengan kecapi namun biasanya lebih kecil. Tolindo dimainkan untuk mengiringi lagu-lagu tradisional atau nyanyian rakyat di kalangan masyarakat Bugis dan Makassar.

6. Alosu

Alosu adalah alat musik perkusi kecil yang dimainkan dengan cara dikocok. Terbuat dari bahan alami seperti biji-bijian kering atau kerikil yang dimasukkan ke dalam wadah bambu, alat musik ini menghasilkan suara yang ritmis. Alosu sering digunakan dalam pertunjukan tari-tarian tradisional di Sulawesi Selatan.

7. Lembang

Lembang adalah alat musik tiup dari Tana Toraja yang terbuat dari bambu. Alat musik ini digunakan dalam upacara adat masyarakat Toraja, terutama dalam ritual pemakaman atau upacara Rambu Solo’. Suara lengkingan lembang dipercaya dapat memanggil roh leluhur.

8. Pakkeke

Pakkeke adalah alat musik tiup tradisional yang mirip dengan seruling tetapi memiliki ukuran lebih kecil. Terbuat dari bambu, Pakkeke dimainkan dengan cara ditiup dan menghasilkan suara yang melengking. Pakkeke biasanya digunakan dalam pertunjukan musik tradisional dan acara adat di Sulawesi Selatan.

9. Serunai Bugis

Serunai Bugis adalah alat musik tiup yang berasal dari masyarakat Bugis. Terbuat dari bambu, serunai Bugis menghasilkan suara nyaring dan khas. Alat musik ini digunakan untuk mengiringi tari-tarian adat atau pertunjukan musik tradisional.

Kelebihan Alat Musik Tradisional Sulawesi Selatan:

  • Fungsi dalam Upacara Adat: gandrang dan puik-puik, memiliki fungsi penting dalam berbagai upacara adat seperti pernikahan, pemakaman, dan upacara keagamaan.
  • Melestarikan Tradisi: Alat musik ini menjadi bagian penting dalam melestarikan budaya dan tradisi masyarakat Bugis, Makassar, dan Toraja. Penggunaannya dalam acara adat menunjukkan penghormatan terhadap warisan budaya leluhur.
  • Keunikan Suara dan Bahan Lokal: biasanya terbuat dari bahan-bahan alami seperti bambu, kayu, dan kulit binatang, yang mencerminkan keterkaitan erat masyarakat dengan alam. Selain itu, suara yang dihasilkan sangat unik dan menciptakan suasana sakral, meriah, atau tenang, tergantung konteks penggunaannya.

Alat musik tradisional Sulawesi Selatan tidak hanya sebagai sarana hiburan, tetapi juga merupakan bagian penting dari budaya dan identitas masyarakat setempat.

Gunung Kau Daki, Masjid Kau Lewati

0

Oleh: Asnawin Aminuddin

(Komisi Kominfo MUI Sulsel / Majelis Tabligh Muhammadiyah Sulsel)

Di era modern ini, semakin banyak kita menemukan orang-orang yang cerdas, memiliki pendidikan tinggi, mahir berbicara, dan piawai dalam menulis. Mereka memiliki banyak pengalaman, gemar bepergian, bahkan ada yang hobi mendaki gunung serta menjelajah lautan.

Beberapa di antara mereka juga sangat fasih membicarakan agama, mengutip ayat-ayat dan hadits dengan lancar. Namun, ironi yang sering kali muncul adalah, di tengah segala kecerdasan dan kemampuan mereka, justru ada yang jarang terlihat di masjid atau menghadiri kajian agama. Fenomena ini menjadi perbincangan di kalangan masyarakat, yang menyebutnya sebagai, “Gunung kau daki, lautan kau seberangi, masjid kau lewati.”

Tak jarang, orang-orang yang dikenal cerdas dan berprestasi justru menunjukkan sikap yang kontras terhadap kewajiban beribadah di masjid. Mereka memiliki segudang prestasi di bidang akademik, sosial, dan bahkan spiritual dalam aspek-aspek tertentu. Namun, ketika datang urusan menghadiri ceramah agama atau shalat berjamaah di masjid, sering kali muncul rasa malas.

Beberapa di antaranya mengaku merasa bosan, mengantuk, atau bahkan menganggap ceramah di masjid kurang menarik bagi mereka. Kondisi ini menjadi paradoks antara kecerdasan intelektual dan spiritualitas.

Padahal, Islam sangat menekankan pentingnya shalat berjamaah di masjid, terutama bagi laki-laki. Pahala yang dijanjikan bagi orang yang shalat berjamaah di masjid sangatlah besar.

Rasulullah SAW bersabda, “Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Artinya, shalat berjamaah memiliki keutamaan yang tidak dapat diabaikan.

Sebaliknya, orang yang meninggalkan shalat berjamaah tanpa alasan yang syar’i juga dihadapkan pada ancaman berat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya ingin rasanya aku menyuruh mengumpulkan kayu bakar hingga terkumpul, kemudian aku perintahkan shalat dan dikumandangkan azan untuknya, kemudian aku perintahkan seseorang untuk mengimami orang-orang itu, lalu aku mendatangi orang-orang yang tidak menghadiri shalat berjamaah itu dan aku bakar rumah mereka.

Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya salah seorang di antara mereka tahu bahwa ia akan mendapatkan tulang berdaging gemuk atau tulang paha yang baik niscaya ia akan hadir berjamaah dalam shalat Isyak itu.”

(Muttafaqun ‘alaih dan lafaznya menurut riwayat Al-Bukhari). [HR Bukhari, No 644 dan Muslim, No 651]

Prioritas Bergeser

Mengapa orang yang telah mendaki gunung, menjelajah lautan, bahkan fasih berbicara soal agama, justru mengabaikan masjid? Salah satu penyebabnya adalah adanya pergeseran prioritas dalam kehidupan.

Dalam dunia yang serba cepat ini, godaan untuk terus mencapai prestasi duniawi seringkali mengalahkan kesadaran akan kewajiban spiritual. Beberapa orang merasa telah menjalani kehidupan yang aktif, berprestasi, dan produktif sehingga kewajiban ibadah berjamaah di masjid dipandang sebagai hal yang tidak perlu diutamakan.

Ada juga yang merasa bahwa dengan melaksanakan ibadah di rumah, mereka sudah cukup menjalankan kewajiban. Namun, dalam Islam, masjid bukan hanya tempat untuk shalat, melainkan juga pusat pembinaan keimanan dan kebersamaan. Di masjid, umat Muslim belajar, mendengar ceramah, dan memperkuat ukhuwah Islamiah.

Fenomena ini juga sering terlihat pada orang-orang yang telah melaksanakan ibadah haji atau umrah. Mereka mungkin sudah beberapa kali mengunjungi Tanah Suci, tapi selepas pulang, kaki mereka tetap terasa berat untuk melangkah ke masjid.

Ibadah haji dan umrah adalah rukun Islam yang sangat mulia, tetapi ibadah tersebut seharusnya menjadi motivasi untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah, termasuk dengan memperbanyak kehadiran di masjid.

Fenomena ini seharusnya menjadi renungan bagi kita semua. Sebagai Muslim, kesuksesan duniawi dan kecerdasan intelektual adalah hal yang baik, namun tidak boleh mengalahkan komitmen kita terhadap kewajiban agama.

Masjid bukan hanya tempat shalat, tetapi juga tempat untuk menumbuhkan ketenangan batin dan mendekatkan diri kepada Allah. Dengan memprioritaskan masjid dan shalat berjamaah, kita tidak hanya mengejar pahala yang besar, tetapi juga menunjukkan kepatuhan kita kepada perintah Allah dan mengikuti jejak Rasulullah SAW.

Gunung memang penting untuk didaki, lautan menarik untuk dijelajahi, tetapi jangan sampai masjid yang ada di dekat kita malah terlewati. (*)

7 Alat Musik Tradisional Sulawesi Tengah

Sulawesi Tengah memiliki berbagai alat musik tradisional yang mencerminkan kekayaan budaya dan keragaman suku-suku di wilayah tersebut, seperti suku Kaili, Lore, dan lainnya. Berikut adalah beberapa alat musik tradisional dari Sulawesi Tengah:

1. Gimba

Gimba adalah alat musik perkusi yang terbuat dari kayu dengan membran dari kulit binatang. Gimba dimainkan dengan cara dipukul dan sering digunakan dalam upacara adat suku Kaili. Alat musik ini biasanya dipakai untuk mengiringi tarian dan ritual adat, serta memiliki peran penting dalam berbagai upacara tradisional.

2. Kanda Wuta

Kanda Wuta adalah alat musik tradisional yang terbuat dari bambu. Kanda Wuta dimainkan dengan cara dipukul, dan menghasilkan suara yang ritmis dan merdu. Alat musik ini banyak digunakan oleh masyarakat Lore di Sulawesi Tengah dalam upacara adat dan acara-acara penting lainnya.

3. Lalove

Lalove adalah alat musik tiup tradisional yang sangat terkenal di Sulawesi Tengah, terutama di kalangan suku Kaili. Terbuat dari bambu, Lalove menghasilkan suara yang melengking dan sering digunakan dalam upacara adat atau ritual keagamaan. Suara lalove yang mistis dipercaya dapat memanggil roh leluhur dalam beberapa tradisi suku.

4. Pare’e

Pare’e adalah alat musik tradisional yang juga dikenal di kalangan suku Kaili. Alat musik ini termasuk dalam jenis perkusi, dan biasanya dimainkan bersama dengan alat musik lain untuk menciptakan harmoni ritmis dalam berbagai upacara adat dan festival budaya.

5. Santu

Santu adalah alat musik petik tradisional yang menyerupai kecapi. Alat ini biasanya terbuat dari kayu dan senar dari serat atau logam. Santu sering digunakan untuk mengiringi nyanyian atau syair tradisional di kalangan masyarakat Sulawesi Tengah, terutama suku Kaili. Santu memiliki suara yang lembut dan menenangkan, sering dimainkan dalam suasana kontemplatif atau keagamaan.

6. Gong

Gong adalah alat musik pukul tradisional yang juga digunakan di Sulawesi Tengah, khususnya oleh suku Kaili. Gong biasanya dimainkan dalam berbagai upacara adat sebagai simbol kehormatan atau untuk menandai dimulainya suatu upacara. Alat musik ini sering digunakan dalam orkestra tradisional untuk mengiringi tari-tarian atau acara ritual.

7. Dodal

Dodal adalah sejenis genderang tradisional yang sering dimainkan dalam upacara adat di Sulawesi Tengah. Alat musik ini dimainkan dengan cara dipukul menggunakan tangan atau stik, menciptakan ritme yang dinamis dan sering digunakan dalam acara adat seperti pernikahan dan upacara penyambutan.

Kelebihan Alat Musik Tradisional Sulawesi Tengah:

  • Fungsi Sosial dan Spiritual: Lalove dan Gimba, memiliki peran penting dalam upacara adat dan ritual keagamaan, yang mencerminkan hubungan kuat antara musik dan spiritualitas di wilayah ini.
  • Melestarikan Warisan Budaya: seperti Santu dan Kanda Wuta berperan dalam melestarikan seni dan budaya tradisional masyarakatnya, sekaligus memperkenalkan generasi muda pada warisan leluhur.
  • Keterkaitan dengan Alam: Sebagian besar alat musik tradisional terbuat dari bahan-bahan alami seperti bambu, kayu, dan kulit binatang, menunjukkan keterkaitan erat antara budaya masyarakat dengan alam sekitarnya.

Alat-alat musik tradisional ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai bagian penting dalam kehidupan sosial, budaya, dan spiritual masyarakat Sulawesi Tengah.

Prodi Arsitektur Universitas Fajar Sukses Gelar Kuliah Tamu

0

Prodi Arsitektur Universitas Fajar sukses menggelar kuliah tamu pada Sabtu, 5 Oktober 2024. Acara ini dihadiri tidak hanya oleh mahasiswa Universitas Fajar, tetapi juga mahasiswa dari kampus-kampus lain diantara Mahasiswa dari Universitas Negeri Makassar yang tertarik mengikuti materi yang dibawakan oleh Ariko Andikabana, Sekjen Ikatan Arsitek Indonesia (IAI).

Dengan tajuk “Bagaimana Masa Depan Arsitek?”, Ariko Andikabana menyajikan pandangan komprehensif mengenai tantangan dan peluang yang akan dihadapi para arsitek dalam beberapa dekade mendatang. Dia membahas transformasi dunia arsitektur yang semakin dipengaruhi oleh kemajuan teknologi, perubahan iklim, serta kebutuhan desain berkelanjutan.

“Seorang arsitek masa depan harus lebih peka terhadap kebutuhan lingkungan dan masyarakat, serta mampu memanfaatkan teknologi dalam menciptakan desain yang lebih efisien dan ramah lingkungan,” kata Ariko dalam presentasinya.

Acara ini tidak hanya menjadi ajang bertukar ilmu, tetapi juga memberikan wawasan baru tentang bagaimana para arsitek dapat menghadapi tantangan masa depan. Kuliah tamu yang interaktif ini ditutup dengan sesi tanya jawab yang ramai, di mana peserta aktif bertanya mengenai penerapan teknologi dan peran arsitek dalam membangun kota berkelanjutan di Indonesia.

Kuliah tamu ini menegaskan pentingnya keterlibatan profesional dan akademisi dalam membangun masa depan arsitektur Indonesia, dengan memadukan teknologi, keberlanjutan, dan komitmen sosial dalam setiap rancangan yang mereka hasilkan.

Dengan acara ini, Prodi Arsitektur Universitas Fajar terus menunjukkan komitmennya dalam memberikan pendidikan berkualitas dengan mengundang praktisi-praktisi profesional di bidang arsitektur untuk memberikan wawasan yang relevan dan inspiratif bagi para mahasiswa. (*)

7 Alat Musik Tradisional Khas Gorontalo

Gorontalo, yang dikenal dengan kekayaan budayanya, juga memiliki berbagai alat musik tradisional yang khas dan mencerminkan identitas budaya masyarakat setempat. Beberapa alat musik tradisional Gorontalo yang penting antara lain:

1. Polopalo

Polopalo adalah alat musik pukul yang terbuat dari bambu. Cara memainkannya dengan memukul kedua sisinya secara bersamaan atau bergantian. Polopalo menghasilkan suara yang khas dan sering dimainkan dalam upacara adat, hiburan, dan acara resmi. Alat musik ini melambangkan semangat dan kreativitas masyarakat Gorontalo.

2. Gambusi

Gambusi adalah alat musik petik yang menyerupai gambus Arab, tetapi di Gorontalo memiliki bentuk dan teknik permainan yang unik. Alat musik ini terbuat dari kayu dengan senar yang terbuat dari bahan serat atau kawat. Gambusi sering dimainkan untuk mengiringi nyanyian atau syair tradisional, terutama dalam pertunjukan seni yang lebih religius.

3. Suling Gorontalo

Suling Gorontalo adalah alat musik tiup tradisional yang terbuat dari bambu. Suling ini memiliki nada yang halus dan dimainkan dalam berbagai upacara adat atau sebagai pengiring lagu-lagu tradisional Gorontalo. Suling sering digunakan untuk menciptakan suasana tenang dan kontemplatif.

4. Bajo

Bajo adalah alat musik tradisional yang berbentuk drum kecil. Alat ini terbuat dari kayu dengan kulit binatang yang dipasang di atasnya sebagai membran. Bajo sering dimainkan bersamaan dengan alat musik lain seperti gambusi atau suling untuk mengiringi tari-tarian tradisional.

5. Karatu

Karatu adalah alat musik perkusi yang menyerupai kastanyet. Alat ini terbuat dari kayu dan dimainkan dengan cara ditepukkan di tangan, menciptakan ritme yang sederhana namun menarik. Karatu biasanya dimainkan dalam kelompok, terutama dalam pertunjukan musik rakyat atau tarian.

6. Otal-otal

Otal-otal adalah alat musik tiup tradisional lainnya dari Gorontalo. Bentuknya mirip dengan suling, namun ukurannya lebih kecil. Alat ini digunakan dalam berbagai upacara adat dan acara budaya untuk mengiringi lagu-lagu atau tarian tradisional.

7. Marwas

Marwas adalah alat musik perkusi berbentuk drum kecil yang berasal dari pengaruh budaya Arab. Alat ini dimainkan dengan tangan dan sering digunakan untuk mengiringi syair religius atau pertunjukan seni Islami di Gorontalo. Marwas sering hadir dalam acara-acara keagamaan atau festival tradisional.

Kelebihan Alat Musik Gorontalo:

  • Melestarikan Tradisi: Alat musik ini memainkan peran penting dalam menjaga budaya dan tradisi Gorontalo, digunakan dalam berbagai upacara adat dan festival.
  • Keunikan Suara: Alat musik seperti polopalo dan gambusi memiliki suara khas yang tidak hanya indah, tetapi juga mengandung nilai sejarah dan budaya yang mendalam.
  • Simbol Identitas: Alat musik ini menjadi simbol identitas dan kebanggaan masyarakat Gorontalo, sering digunakan dalam pertunjukan kesenian dan acara resmi.

Alat-alat musik ini mencerminkan kekayaan budaya Gorontalo, serta menunjukkan betapa musik menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat setempat.