Beranda blog Halaman 24

Menelusuri Sejarah dan Makna Barongsai dalam Perayaan Imlek

0

Dalam artikel ini, kita akan menelusuri sejarah dan makna barongsai yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Imlek. Tahun Baru Imlek, atau dikenal sebagai Tahun Baru Cina, merupakan perayaan yang sangat dinantikan oleh masyarakat Tionghoa.

Di Indonesia, acara ini dirayakan dengan berbagai kegiatan khas yang meriah. Salah satu tradisi yang paling mencolok adalah pertunjukan barongsai, sebuah tarian tradisional yang memikat perhatian banyak orang.

Barongsai, yang menyerupai singa, sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Tarian ini tidak hanya menampilkan keindahan gerakan tetapi juga memancarkan nilai-nilai budaya yang kaya.

Asal Usul Barongsai

Barongsai bukan sekadar pertunjukan, ia memiliki cerita panjang yang menarik di baliknya. Mengutip dari Kompas.com, tari barongsai dipercaya sudah ada sejak zaman Dinasti Chin pada abad ketiga sebelum Masehi. Ini menunjukkan bahwa kesenian ini telah melewati perjalanan waktu yang panjang hingga tetap eksis hingga sekarang.

Namun, kepopuleran barongsai baru benar-benar meningkat pada zaman Dinasti Selatan-Utara (Nan Bei) pada 420-589 Masehi. Salah satu cerita yang dipercaya adalah bagaimana seorang panglima perang bernama Zhong Que menggunakan boneka singa untuk mengusir musuh. Cerita ini menguatkan posisi barongsai dalam budaya Tiongkok.

Makna Spiritual dan Simbolik

Setiap elemen dalam tarian barongsai memiliki maknanya sendiri. Singa dalam barongsai melambangkan keberanian dan kekuatan yang sering kali diasosiasikan dengan energi positif. Tarian ini dipercaya dapat mengusir roh jahat dan membawa keberuntungan bagi yang menyaksikannya.

Bagi banyak orang, barongsai adalah lebih dari sekadar hiburan. Pada setiap tarian, hadir nilai-nilai spiritual yang disampaikan melalui gerakan dan musiknya. Hal ini membuat barongsai punya arti mendalam bagi masyarakat Tionghoa.

Persiapan dan Pelaksanaan Tarian

Untuk menampilkan barongsai yang memukau, persiapan yang matang sangat diperlukan. Para penari harus menjalani latihan intensif untuk memastikan keluwesan gerakan dan kekompakan tim.

Barongsai tidak hanya memerlukan keterampilan menari, tetapi juga kerja sama dan konsentrasi tinggi dari para pemain. Kombinasi gerakan ritmis dan musik tradisional melengkapinya dengan sempurna agar tampil maksimal saat pertunjukan.

Masyarakat biasanya mempersiapkan barongsai pada hari-hari sebelum perayaan Imlek dimulai. Persiapan ini melibatkan komunitas sekitar yang ikut serta dalam membuat acara lebih meriah dan bermakna.

Pengaruh Budaya dan Komunitas

Barongsai telah melampaui batas-batas negara, menjadikannya simbol budaya global. Banyak komunitas Tionghoa di berbagai negara yang menyertakan tarian ini dalam perayaan mereka.

Di Indonesia, misalnya, barongsai menjadi salah satu atraksi utama yang dinantikan. Dari kota besar hingga daerah terpencil, kehadiran barongsai menambah warna dan kemeriahan perayaan Imlek.

Selain sebagai hiburan, barongsai juga menjadi ajang untuk mempererat hubungan sosial di antara anggota komunitas. Keterlibatan berbagai pihak dalam persiapan memperkuat rasa kebersamaan dan solidaritas.

Barongsai Modern dan Inovasi

Meski memiliki akar tradisional yang kuat, barongsai terus berinovasi. Kini kita bisa menyaksikan variasi barongsai yang tampil dengan musik modern dan gerakan kreatif.

Inovasi ini memungkinkan barongsai tetap relevan dan menarik bagi generasi muda. Dengan adanya sentuhan modern, barongsai dapat menjangkau audiens yang lebih luas tanpa kehilangan nilai budaya.

Generasi muda terlibat dalam pengembangan barongsai modern ini, membuatnya lebih dinamis dan sesuai dengan perkembangan zaman. Inovasi ini menuntut pelestarian budaya sambil mengakomodasi selera baru.

Tradisi Barongsai di Indonesia

Sebagai negara dengan penduduk Tionghoa yang cukup banyak, Indonesia merayakan barongsai dengan semangat tinggi. Pertunjukan ini dapat dengan mudah ditemukan di daerah pecinan setiap Imlek.

Dari segi budaya, barongsai di Indonesia telah menjadi bagian penting dari identitas dan keragaman budaya. Kehadirannya tidak hanya sekadar tontonan, tetapi juga simbol perpaduan antara berbagai budaya yang ada.

Tahun ke tahun, popularitas barongsai semakin meningkat. Banyak generasi muda yang tertarik mempelajari dan melanjutkan tradisi ini, sehingga barongsai tetap hidup dalam konteks budaya Indonesia.

Barongsai dan Ekonomi Kreatif

Selain sebagai tradisi, barongsai juga berperan dalam sektor ekonomi kreatif. Melalui pertunjukan dan pembuatan kostumnya, barongsai berhasil menciptakan peluang bisnis baru.

Pasar kostum barongsai menjangkau berbagai kalangan mulai dari acara tradisional hingga modern. Kreativitas dalam pembuatan kostum menjadi daya tarik tersendiri dan menawarkan nilai tambah ekonomis.

Dengan banyaknya acara dan festival, industri barongsai juga membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Ini jelas memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi kreatif di berbagai daerah.

Tantangan dan Peluang Masa Depan

Seiring dengan perkembangan zaman, barongsai menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari mempertahankan relevansi hingga persaingan dengan hiburan modern.

Namun, tantangan ini disertai dengan peluang baru. Barongsai dapat berinovasi dalam banyak hal, seperti memasukkan teknologi dalam pertunjukan dan berkolaborasi dengan seniman modern.

Di masa depan, dengan kreativitas dan kerja sama, barongsai diharapkan dapat berkembang lebih baik dan dikenal lebih luas. Pelestarian ini perlu didukung oleh berbagai pihak untuk menjaga keberlanjutan tradisinya.

Barongsai bukan hanya sebuah tarian, tapi sebuah jembatan budaya yang menyatukan orang dari berbagai kalangan. Perannya dalam perayaan Imlek sangat penting, baik dalam aspek budaya maupun ekonomi.

Dengan terus melestarikan dan mengembangkan barongsai, kita turut berperan dalam menjaga warisan budaya ini tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang. (*)

Resep Kue Kacang Tanpa Kacang, Lezat dan Renyah

0

Rubrik Selera Nusantara edisi kali ini menyajikan resep Kue Kacang Tanpa Kacang. Kue kacang tanpa kacang adalah varian unik dari kue tradisional yang sering muncul di berbagai perayaan, terutama saat perayaan Tahun Baru Imlek.

Biasanya, kue kacang identik dengan rasa kacang yang kaya dan gurih, namun varian tanpa kacang ini tetap menawarkan cita rasa yang lezat meskipun tanpa bahan utama tersebut. Lantas, apa yang membuat kue kacang tanpa kacang ini menarik?

Tekstur Renyah dan Lezat
Walaupun tanpa kacang sebagai bahan utama, kue kacang tanpa kacang ini tetap memiliki tekstur renyah yang menggugah selera. Dengan bahan-bahan seperti tepung terigu, mentega, dan gula, kue ini memiliki kelembutan di luar dan kelezatan yang mirip dengan kue kacang asli. Sensasi crispy di bagian luar dan sedikit lumer di dalam mulut, memberikan pengalaman makan yang menyenangkan.

Rasa yang Kaya dan Memikat
Kue kacang tanpa kacang ini tetap menjaga cita rasa yang gurih meskipun tanpa kacang. Umumnya, kue ini akan diperkaya dengan bahan lain yang memberikan rasa mirip dengan kacang, seperti pasta kacang tanah atau bahan pengganti kacang yang memiliki rasa gurih. Beberapa resep mungkin juga menggunakan sedikit rempah untuk menambah kedalaman rasa, menjadikannya tetap enak dan penuh aroma.

Kue kacang tanpa kacang merupakan alternatif inovatif yang tetap menyuguhkan cita rasa lezat dan tekstur renyah khas kue kacang. Meski tidak menggunakan kacang sebagai bahan utama, kue ini tetap bisa memikat hati dengan rasa gurihnya yang khas.

Resep Kue Kacang Tanpa Kacang

Banan:

  • 450 gram tepung terigu protein rendah atau sedang
  • 150 gram gula pasir
  • 1/2 sendok teh baking powder
  • 1/4 sendok teh garam
  • 100 gram buter
  • 2 butir kuning telur
  • 200 ml minyak sayur
  • 1 sendok teh baking soda, larutkan dengan 2 sendok makan air

Olesan dan Topping:

  • 1 butir kuning telur dan secukupnya kacang almond slice

Cara Membuat Kue Kacang Tanpa Kacang

  1. Campurkan semua bahan. Lalu aduk-aduk menggunakan spatula. Aduk hingga tercampur rata.
  2. Selanjutnya, bulat-bulatkan adonan, tata pada loyang lalu beri topping.
  3. Panggang atau oven adonan, hingga matang. Angkat, tunggu dingin kemudian masukkan di toples.

Selamat mencoba dan menikmati. (Ana)

Resep Samosa Ala-ala, Garing dan Renyah

0

Rubrik Selera Nusantara edisi kali ini menyajikan resep Samosa Ala-ala versi @andiskitchen. Samosa adalah camilan khas yang berasal dari wilayah Timur Tengah, Asia Selatan, dan sekitarnya, yang telah menjadi sangat populer di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Dengan kombinasi lapisan luar yang renyah dan isi yang kaya rasa, samosa sering kali menjadi pilihan favorit untuk menemani waktu santai, baik sebagai camilan maupun hidangan pembuka dalam acara makan.

Rasa dan Cita Rasa
Rasa samosa sangat bergantung pada isian dan bumbu yang digunakan. Untuk samosa sayuran, rasa gurih dan sedikit pedas berasal dari kombinasi kentang dan sayuran yang dipadu dengan rempah-rempah yang khas, seperti jintan, kari, dan ketumbar. Bagi yang memilih samosa daging, rasa umami dari daging yang dimasak dengan bumbu kaya rempah akan semakin menggugah selera.

Keistimewaan Samosa
Keistimewaan dari samosa adalah fleksibilitasnya dalam hal isi dan rasa. Anda dapat menemukan samosa dengan beragam bahan yang menyesuaikan selera lokal. Selain itu, bentuknya yang praktis dan mudah dibawa menjadikannya pilihan ideal untuk camilan ringan saat bepergian atau dalam acara santai.

Proses penggorengannya yang cepat memastikan samosa tetap renyah dan cocok untuk disajikan dalam kondisi hangat. Selain itu, samosa juga bisa disimpan dalam wadah kedap udara jika Anda ingin membuatnya dalam jumlah banyak, dan tetap enak saat dipanaskan kembali.

Samosa adalah camilan yang tidak hanya nikmat, tetapi juga menggugah selera dengan kombinasi rasa gurih, pedas, dan renyah. Isiannya yang bervariasi memberikan fleksibilitas bagi para penikmatnya, menjadikannya pilihan yang dapat disesuaikan dengan selera pribadi.

Resep Samosa Ala-ala

Bahan:

  • 2 batang wortel ukuran sedang diserut
  • 10 buah buncis, iris bulat
  • 2 batang daun bawang, iris – iris
  • 4 siung bawang putih cincang
  • 2 sendok makan bubuk kari
  • 150 gram tuna kaleng, merk ayam brand 1 kaleng
  • Kulit lumpia
  • 1 butir telur kocok
  • Secukupnya garam dan kaldu bubuk

Cara Membuat Samosa Ala-ala

  1. Tumis bawang merah dam bawang putih hingga tercium aroma harum dan matang. Masukkam bumbu kari, lalu aduk rata.
  2. Masukkan wortel dan buncis, lalu aduk rata lagi hingga matang, lalu beri garam dan kaldu bubuk. Masukkan daun bawang, aduk rata lagi. Koreksi rasa lalu matikan api.
  3. Panaskan minyak penuh. Kemudian bungkus isian Samosa pakai kulit lumpia. Rekatkan dengan telur kocok. Langsung goreng hingga kering atau renyah, angkat kemudian sajikan.

Selamat mencoba dan menikmati. (Ana)

Mengenal Imlek: Sejarah, Tradisi dan Makna Budaya Tionghoa

0

Imlek, salah satu perayaan paling meriah bagi masyarakat Tionghoa, menjadi penanda awal tahun baru dalam kalender lunar. Pada tahun ini, Imlek jatuh pada tanggal 29 Januari 2025. Perayaan ini dipenuhi dengan harapan baik dan sejumlah tradisi menarik yang diwarisi turun temurun.

Imlek tidak sekadar perayaan tahun baru, tetapi juga mengandung makna serta simbolisme yang dalam. Masyarakat Tionghoa di seluruh dunia merayakannya dengan berbagai cara, mulai dari menghias rumah hingga kumpul keluarga. Tetapi, apa yang membuatnya begitu istimewa? Mari kita lihat lebih dekat apa yang tersembunyi di balik perayaan ini.

Sejarah Imlek

Imlek berakar pada tradisi agraris masyarakat Tiongkok kuno. Berfungsi sebagai tanda pergantian musim, perayaan ini sekaligus jadi ajang peringatan panen. Kalender lunar yang digunakan berbeda dari penanggalan Gregorian saat ini.

Legenda menyebutkan, makhluk mitologi bernama Nian datang tiap akhir tahun untuk mengganggu desa-desa. Dengan warna merah, petasan, dan suara berisik, masyarakat coba menangkalnya, tradisi yang terus dilakukan demi mengusir nasib buruk dan menyambut keberuntungan.

Tradisi Bersih-bersih Sebelum Imlek

Membersihkan rumah sebelum Imlek adalah kebiasaan wajib bagi masyarakat Tionghoa. Tujuannya adalah membuang sial tahun lalu dan mengundang keberuntungan baru. Namun, ketika Imlek dimulai, kegiatan menyapu harus berhenti agar keberuntungan yang telah masuk tidak terbuang.

Aktivitas ini tidak sekadar fisik, namun juga simbolis. Dengan membersihkan rumah, seakan-akan kita mengundang energi positif dan mengusir hal-hal negatif.

Makna Warna Merah dalam Imlek

Warna merah sangat lekat dengan perayaan Imlek. Warna ini diyakini membawa keberuntungan dan kebahagiaan. Lentera merah, kaligrafi harapan baik, hingga berbagai simbol keberuntungan lainnya menghiasi rumah-rumah warga.

Penggunaan warna merah dalam segala dekorasi selama perayaan bukan tanpa alasan. Masyarakat percaya warna ini membawa aura positif dan menolak bala.

Tradisi ini juga turun-temurun dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan juga sebagai bagian penting dari ritual tahunan.

Angpao dan Simbolismenya

Angpao adalah hadiah berupa uang di dalam amplop merah yang dibagikan oleh orang dewasa kepada anak-anak atau mereka yang belum menikah. Tradisi ini melambangkan doa untuk kesehatan dan keberuntungan si penerima.

Melalui angpao, hubungan sosial diperkuat. Simbolisasi kesejahteraan jelas terlihat dari tradisi ini, tidak hanya soal materi namun juga harapan.

Makan Malam Bersama Keluarga

Makan malam saat Imlek adalah momen paling dinantikan. Hidangan yang disajikan beraneka dan penuh makna. Ikan, misalnya, melambangkan kelimpahan.

Lumpia dan mie panjang umur termasuk dalam menu wajib yang masing-masing melambangkan keberuntungan dan kesehatan. Perjamuan ini menjadi ajang berkumpul dan mempererat tali persaudaraan.

Acara makan besar ini menjadi simbol penting dalam tradisi Imlek dan menjalin kembali hubungan keluarga yang mungkin renggang selama setahun terakhir.

Petasan dan Kembang Api

Petasan dan kembang api sudah jadi bagian tak terpisahkan dari Imlek. Tujuannya adalah menakut-nakuti roh jahat sehingga mereka tidak mengganggu kehidupan di tahun baru.

Suara yang ditimbulkan diyakini mengusir energi negatif dan mengundang keberuntungan. Tradisi ini terus dilakukan meski zaman telah berganti.

Pada setiap pergantian tahun, langit malam penuh warna mewarnai kegembiraan merayakan harapan baru.

Makna Ekonomi dan Sosial Imlek di Masa Kini

Dalam era modern, Imlek menjadi lebih dari sekadar perayaan budaya. Ada nilai ekonomi besar di baliknya, mulai dari pembelian pakaian baru, dekorasi rumah, hingga hadiah.

Imlek adalah saat yang tepat untuk refleksi dan mempererat hubungan dengan komunitas. Tradisi berbagi angpao dan makanan mencerminkan peran sosial yang penting.

Bersamaan dengan kemajuan zaman, makna perayaan ini berkembang namun tetap menempatkan kebersamaan sebagai inti.

Tips Berhemat Selama Perayaan Imlek

Persiapan Imlek sering kali melibatkan biaya besar untuk dekorasi, makanan, dan angpao. Namun, ada sejumlah cara agar tetap bisa hemat tanpa mengurangi makna perayaan.

Membuat anggaran dan memanfaatkannya secara bijak adalah langkah awal yang penting. Selain itu, banyak promo dari merchant menjelang Imlek bisa dimanfaatkan.

Dengan belanja lebih awal, kamu bisa memilih barang yang sesuai kebutuhan sekaligus harga lebih terjangkau. Fokus pada kebersamaan, bukan sekadar kemewahan perayaan.

Refleksi dan Harapan Baru Melalui Imlek

Imlek bukan hanya soal tradisi, tetapi juga momen bagi refleksi. Masyarakat merenungkan pencapaian tahun lalu untuk merumuskan resolusi baru.

Tradisi yang dilakukan selama perayaan adalah simbol harapan akan masa depan lebih baik. Kebersamaan dengan keluarga jadi modal penting.

Dalam setiap ritual terselip doa untuk kebahagiaan dan kesejahteraan di tahun yang baru.

Imlek adalah perayaan yang kaya simbolisme dan makna. Melalui ritual dan tradisinya, masyarakat Tionghoa menyambut tahun baru dengan harapan dan kebahagiaan. (*)

Renungan Harian Kristen, Selasa, 14 Januari 2025: Panggilan Allah

0

Renungan Harian Kristen hari ini, Selasa, 14 Januari 2025 berjudul: Panggilan Allah

Bacaan untuk Renungan Harian Kristen hari ini diambil dari Yesaya 6:8

Renungan Harian Kristen hari ini mengisahkan tentang Panggilan Allah

Yesaya 6:8 – Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!”

Pengantar:

Renungan hari ini tentang “Panggilan Allah”. Dikatakan bahwa “Panggilan Allah sesungguhnya tidak tertuju hanya kepada segelintir orang pilihan, melainkan kepada setiap orang.”

Masalahnya, apakah saya mendengar panggilan Allah atau tidak? Tergantung pada pendengaran saya. Dan, pendengaran saya sesungguhnya tergantung pada sikap rohani saya. Lalu, bagaimana dengan “banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih”?

Renungan Harian Kristen, Selasa, 14 Januari 2025

Menarik bahwa Allah tidak memanggil langsung kepada Yesaya. Akan tetapi, Yesaya mendengar suara Allah berkata, “… siapakah yang mau pergi untuk Aku?”

Panggilan Allah tidak tertuju hanya kepada segelintir orang pilihan, melainkan kepada setiap orang. Masalahnya, apakah saya mendengar panggilan Allah atau tidak. Tergantung pada pendengaran saya dan pendengaran saya sesungguhnya tergantung pada sikap rohani saya.

Yesus berkata, “Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih” (Matius 22:14). Maksudnya, hanya sedikit yang membuktikan bahwa mereka adalah orang pilihan. Orang pilihan adalah mereka yang telah menjalin hubungan dengan Allah melalui Yesus Kristus, keadaan rohani mereka telah diubah, serta telinga mereka telah dibuka.

Kemudian, mereka mendengar “suara Tuhan” yang terus-menerus bertanya, “… siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Namun, Allah tidak menyisihkan seseorang secara terpisah lalu berkata, “Nah, engkaulah yang pergi.”

Dia tidak memaksakan kehendak-Nya kepada Yesaya. Yesaya berada di hadirat Allah, dan dia mendengar suara panggilan itu. Tanggapannya, yang dicetuskan dengan penuh kerelaan, hanya berbunyi, “Inilah aku, utuslah aku!”

Singkirkan pendapat dan pikiran Anda yang mengharapkan Allah datang memaksa atau memohon kepada Anda. Ketika Tuhan memanggil para murid-Nya, Dia melakukannya tanpa tekanan dari pihak luar.

Panggilan-Nya yang tenang, penuh semangat, dan wibawa, “Ikutlah Aku,” diucapkan kepada mereka yang seluruh indranya siap untuk menerima (Matius 4:19). Jika kita mengizinkan Roh Kudus membawa kita “muka dengan muka” dengan Allah, kita juga akan mendengar suara yang didengar oleh Yesaya — “suara Tuhan”. Dengan penuh kebebasan kita juga akan berkata, “Inilah aku, utuslah aku!”

Demikian Renungan hari ini, Selasa, 14 Januari 2025 diambil dari Yesaya 6:8 yang mengisahkan tentang Panggilan Allah dan disadur dari Renungan Oswald Chambers//alkitab.mobi.

Dinas Pendidikan Pinrang Raih Penghargaan Pelayanan Publik Terbaik 2024

0

PINRANG – Kamis, 12 Desember 2024, menjadi momen bersejarah bagi Kabupaten Pinrang. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pinrang, Andi Matjtja Moenta, S.Sos, berhasil meraih penghargaan tertinggi dalam Penyelenggaraan Pelayanan Publik tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Ombudsman RI dalam acara yang berlangsung di Hotel Four Points Makassar.

Penghargaan ini menjadi pengakuan atas dedikasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pinrang dalam memberikan pelayanan publik yang berkualitas dan inovatif. Berbagai langkah strategis, seperti penyederhanaan birokrasi pada proses pendaftaran siswa baru, transparansi pengelolaan anggaran, serta peningkatan sarana dan prasarana pendidikan, menjadi kunci keberhasilan tersebut.

“Penghargaan ini adalah bukti nyata bahwa komitmen kami untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat membuahkan hasil,” ungkap Andi Matjtja Moenta. Ia juga menegaskan bahwa pihaknya akan terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Pinrang melalui pengembangan program-program inovatif yang dapat meningkatkan minat belajar siswa.

Prestasi ini diharapkan dapat memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap mutu pendidikan di Kabupaten Pinrang. Lebih jauh, penghargaan ini juga menjadi inspirasi bagi daerah lain di Sulawesi Selatan untuk terus berbenah dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik, khususnya di bidang pendidikan.

Dengan pencapaian ini, Kabupaten Pinrang telah menunjukkan komitmennya sebagai pelopor dalam pelayanan publik yang bermutu di sektor pendidikan. (Nasri, T)

Wakil Ketua DPRD Sulteng Desak Pemerintah Evaluasi Pengelolaan Pertambangan

0

PALU – Wakil Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Aristan, S.Pt, mendorong pemerintah daerah untuk segera mengevaluasi pengelolaan pertambangan di wilayah Sulawesi Tengah. Langkah ini diusulkan menyusul banyaknya penolakan dari masyarakat terhadap aktivitas pertambangan yang diduga merugikan lingkungan.

“Persoalan pertambangan saat ini menjadi isu hangat, terutama setelah kejadian di Morowali Utara, di mana beberapa perusahaan diduga menjadi penyebab banjir akibat aktivitas mereka,” ujar Aristan, politikus Partai Nasdem, saat ditemui di ruang kerjanya di Kantor DPRD Sulteng, Senin (13/1/2025).

Meski ada dugaan kerusakan lingkungan, Aristan enggan berspekulasi mengenai legalitas perusahaan tambang tersebut.

“Saya tidak bisa memastikan apakah aktivitas itu legal atau tidak. Harus ada data dan informasi yang jelas untuk menyebutnya demikian, dan saya tidak memiliki data tersebut,” tegasnya.

Namun, ia menekankan bahwa dampak negatif dari aktivitas pertambangan sudah menjadi masalah nyata di tengah masyarakat.

“Di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), misalnya, banyak persoalan yang muncul, mulai dari isu kesehatan, keselamatan kerja, hingga masalah sosial dan lingkungan. Ini bukan hal baru, tetapi sampai sekarang belum ada tindakan serius dari pemerintah,” jelasnya.

Aristan juga menyayangkan sikap pemerintah daerah dan pusat yang dinilai lamban merespons berbagai permasalahan yang ditimbulkan oleh aktivitas pertambangan.

“Ini seharusnya segera ditangani, karena sudah berkaitan dengan keselamatan manusia dan masa depan lingkungan di kawasan pertambangan,” ungkapnya.

Untuk itu, Aristan mendesak Gubernur Sulawesi Tengah, sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat, untuk mengambil langkah evaluasi yang komprehensif terhadap pengelolaan pertambangan di wilayah tersebut.

“Gubernur memiliki kewenangan penuh untuk melakukan evaluasi. Langkah ini penting untuk memastikan keberlanjutan lingkungan dan keselamatan masyarakat di sekitar area tambang,” tutupnya. (RN)

Anggota Komisi III DPRD Sulteng Soroti Transparansi Tambang dan Dana CSR

0
PALU – Lingkaran Studi Aksi dan Demokrasi Indonesia (LS-ADI) menggelar diskusi publik bertema “Evaluasi Tambang di Sulteng: Antara Keuntungan Ekonomi atau Kerusakan Lingkungan”. Diskusi yang berlangsung di Sekretariat LS-ADI, Jalan Diponegoro, Jumat (10/1/2025), menghadirkan pembicara Ir. H. Musliman, MM, Anggota Komisi III DPRD Provinsi Sulawesi Tengah.

Dalam pemaparannya, Musliman menyoroti pentingnya transparansi pendapatan perusahaan tambang serta penegakan aturan terkait tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

“Kita mengetahui persentase pembagian hasil tambang, tapi tidak tahu jumlah pendapatan sebenarnya. Misalnya, jika pendapatan perusahaan mencapai Rp20 triliun, namun yang tercatat hanya Rp6 triliun. Hal ini perlu ditelusuri lebih dalam,” ujar Musliman.

Ia menekankan bahwa CSR telah diatur melalui Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, yang diperkuat oleh Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2011. Menurut Musliman, jika petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis) CSR dijalankan dengan baik, manfaatnya akan langsung dirasakan masyarakat.

“Dulu, penyaluran dana hasil tambang sudah jelas, 20% untuk pusat dan 80% untuk daerah. Dari porsi daerah, 16% dialokasikan untuk provinsi, 32% untuk daerah penghasil, dan 32% untuk daerah penyangga. Namun, apakah mekanisme ini masih diterapkan dengan konsisten?” ungkapnya saat sesi tanya jawab.

Musliman juga menyoroti potensi ketidaktransparan pendapatan perusahaan tambang dan dampak lingkungan akibat aktivitas pertambangan. Ia menekankan pentingnya pengawasan berbasis data teknis, termasuk bukti-bukti kerusakan lingkungan menggunakan drone dan data koordinat.

Namun, ia menegaskan bahwa pengawasan DPRD hanya mencakup aktivitas tambang yang legal dan sesuai dengan produk hukum pemerintah.

“Penambangan ilegal di luar kewenangan kami dan menjadi tanggung jawab aparat penegak hukum,” tegasnya.

Diskusi ini menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat untuk memastikan sektor pertambangan membawa dampak positif, baik secara ekonomi maupun sosial, tanpa mengabaikan keberlanjutan lingkungan. (RN)

Wanita Muda Ditangkap dengan 39 Paket Sabu di Sigi, Polisi Amankan Seorang Pria

0

SIGI — Polisi berhasil menangkap seorang wanita muda berinisial IM (25) yang kedapatan menyimpan 39 paket sabu dengan berat bruto 39 gram. Penangkapan dilakukan di rumah IM yang berlokasi di Desa Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pada Kamis (9/1/2025).

Kepala Satuan Narkoba Polres Sigi, AKP Anton S. Mowala, S.Kom, mengungkapkan bahwa dalam penggerebekan tersebut, polisi juga menangkap seorang pria berinisial JU (40), warga Desa Alitupu, Poso, yang berada di lokasi saat penangkapan.

“Selain IM, kami juga mengamankan JU yang diduga terlibat dalam kasus ini. Saat itu, keduanya berada di rumah IM,” ujar AKP Anton.

Dari hasil penyelidikan awal, IM diduga berencana menjual sembilan paket sabu di Desa Tongoa.

“Kami juga menemukan barang bukti lainnya, termasuk timbangan digital dan dua bungkus plastik klip kecil yang diduga digunakan untuk mengemas sabu,” tambahnya.

Saat ini, kedua terduga pelaku telah diamankan di Mapolres Sigi untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Polisi akan terus mendalami kasus ini guna mengungkap jaringan peredaran narkoba yang melibatkan kedua pelaku.

Kasus ini menjadi perhatian serius Polres Sigi sebagai bagian dari upaya memberantas peredaran narkoba di wilayah Sulawesi Tengah.(RN)

Kapolresta Palu Berganti, Kombes Pol Deny Abrahams Disambut Upacara Tradisi Pedang Pora

0
PALU — Kombes Pol Deny Abrahams, SH, SIK, MH, resmi menjabat sebagai Kapolresta Palu menggantikan Kombes Pol Barliansyah. Serah terima jabatan ini ditandai dengan upacara tradisi pedang pora yang digelar di Mapolresta Palu, Jalan Sam Ratulangi, Kelurahan Besusu Barat, Kecamatan Palu Timur, pada Jumat (1/10/2025).

Penyambutan Kapolresta Palu yang baru turut dimeriahkan dengan tarian adat Tanah Kaili. Upacara tersebut dihadiri oleh sejumlah perwira, termasuk Wakapolresta Palu dan para pejabat utama Polresta Palu.

Dalam sambutannya, Kombes Pol Deny Abrahams menyampaikan komitmennya untuk melanjutkan program-program yang telah dirintis oleh pendahulunya. Ia juga mengajak seluruh jajaran untuk menjaga keamanan dan ketertiban di Kota Palu.

“Saya berharap dukungan yang telah diberikan kepada Kapolresta sebelumnya dapat diberikan juga kepada saya. Mari kita bersama-sama menjaga kondusivitas Kota Palu,” ujar Kombes Pol Deny Abrahams.

Sementara itu, Kombes Pol Barliansyah dalam sambutan perpisahannya mengucapkan terima kasih atas kerja sama yang terjalin selama ia menjabat.

“Saya akan bertugas sebagai Widyaiswara Sespimmen Polri Tingkat III Madya Polisi Sespim Lemdiklat Polri. Meski begitu, hubungan kita jangan sampai terputus. Tetap jaga semangat dan kerja sama yang baik,” ucap Kombes Pol Barliansyah.

Usai upacara, Kombes Pol Deny Abrahams menyempatkan diri meninjau sejumlah fungsi di Mapolresta Palu, termasuk Satuan Reserse Kriminal, Satuan Narkoba, Satuan Samapta, Satuan Lalu Lintas, dan Satuan Tahti.

Pergantian pucuk pimpinan ini diharapkan dapat membawa Polresta Palu terus meningkatkan pelayanan dan menjaga keamanan masyarakat.(RN)